Selasa, 11 Juni 2013

Pembangunan Berwawasan lingkungan 

 

  Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang terencana dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Terlaksananya pembangunan berwawasan lingkungan dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana merupakan tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup.

1) Pengertian Dampak Terhadap Lingkungan
Suatu kegiatan proyek akan mempengaruhi kondisi lingkungan dan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungannya, dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan proyek ini dapat terjadi pada masa konstruksi maupun masa operasi proyek dan dapat berupa dampak positif maupun negatif bagi lingkungannya.

2) Komponen-Komponen Lingkungan
Diantara komponen-komponen lingkungan yang penting, adalah
a) Biologi, mencakup sub-komponen:
o Jenis flora fauna darat (vegetasi dan satwa)
o Jenis flora fauna perairan (plankton & bentos)
b) Geofisik, mencakup sub-komponen:
o lklim
o Fisiografi
o Hidrologi
c) Kimia, mencakup sub-komponen:
o Kualitas udara
o Kualitas air
d) Sosial Budaya dan Kemasyarakatan, dijabarkan:
o Demografi industri dan kependudukan
o Sosial ekonomi
o Sosial budaya

Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan

Upaya Kelola Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) merupakan uraian kegiatan pengelolaan dan pemantauan yang bersifat operasional. Pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan adalah pada dampak yang dapat timbuI, berupa:
a. Penurunan kualltas udara
b. Penurunan kebersihan Iingkungan
c. Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha.

1) Dampak Sosial
Perubahan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Kehidupan
Pelaksanan proyek  yang akan menghasilkan suatu product akan membawa perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan baru bagi para karyawan dan masyarakat di sekitarnya, khususnya yang akan terlibat langsung dalam kegiatan konstruksi dan produksi.
Perubahan tingkat pengetahuan bagi para pegawai dapat terjadi secara langsung maupun tak langsung. Secara langsung perubahan tersebut terjadi bagi para pegawai yang mendapatkan training yang diselenggarakan oleh perusahaan. Secara tidak langsung dapat diperoleh para tenaga kerja yaitu berupa pengalaman-pengalaman selama mereka bekerja di perusahaan.

Alat Penunjang Program Pemerintah
Pengoperasian proyek berupa pengembangan usaha akan dapat menunjang program pemerintah dalam beberapa hal, yaitu:
> Meningkatkan nilai tambah dan daya saing atas produksi  dalam negeri.
> Mengaktifkan kehidupan ekonomi dengan adanya kaitan terhadap sektor lainnya.
> Berpartisipasi dalam memulihkan pertumbuhan ekonomi nasional

2) Dampak Ekonomi
o Pengembangan usaha akan member

ikan dampak positif terhadap struktur perekonomian pada umumnya dan pekerja usaha ini pada khususnya.
o Meningkatkan penghasilan para Pekerja
Kegiatan proyek yang akan dilakukan tentunya dapat meningkatkan penghasilan masyarakat disekitarnya, hal ini bisa dilihat dari pendapatan rata-rata masyarakat setempat sebelum mereka bekerja di perusahaan dibandingkan dengan pendapatan setelah bekerja pada proyek.
o Meningkatkan pendapatan negara melalui Pajak
Dengan beroperasinya proyek yang dijalankan akan menambah penerimaan negara dari sektor pajak, antara lain:
Pajak Perusahaan (PPh Badan)
Pajak penghasilan karyawan (PPh Pasal 21)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Sumber : Laporan Studi Kelayakan  Project Pengembangan Usaha PT.X 2005

 

 

Rabu, 10 April 2013

Jalan Menuju Kampus UNNES


SEMARANG, Akses jalan menuju kampus UNNES Sekaran, Gunungpati, salah satunya adalah lewat Trangkil Sampangan. Kondisi infrastruktur jalan utama menuju kampus UNNES cenderung ekstrim. Dengan keadaan jalan yang rusak, berlubang dan bergelombanng, juga bekelok. Karena UNNES yang terletak di dataran tinggi mengakibatkan akses menuju UNNES sedikit mengkhawatirkan. Sejumlah kendaraan roda empat atau roda dua terpaksa memperlambat laju, demi menghindari lubang, terlebih lagi di daerah ini banyak terdapat tanjakan. Bahkan tidak jarang menimbulkan kecelakaan karena di jalur ini terdapat banyak batu-batu kerikil. Selain tanjakan, akses jalan menuju Gunungpati juga banyak tikungan.
        Akibatnya, antrean panjang kendaraan tak terhindarkan, terutama pada jam-jam sibuk mahasiswa masuk kuliah dan saat masyarakat sekitar masuk kerja. Apalagi cuaca sekarang ini, yang kerap kali hujan mengguyur Semarang atas yang menjadikan kondisi jalan semakin parah dan itu menjadikan semakin lengkapnya serentetan penderitaan pengguna jalan. Dan fasilitas penerangan jalan juga minim sehingga membahayakan pengguna kendaraan yang melintas di malam hari. Kerusakan jalan menuju UNNES ini, juga diakibatkan struktur tanah yang bergerak.
  
   Keadaan tanah suatu daerah sangat mendukung konstruksi bangunan yang berada di atasnya. Menurut saya jalan Trangkil ini tersusun atas material lepas (aluvium), seperti satuan batu lempung, satuan batu pasir, satuan breksi maupun satuan endapan gunung api. Sehingga tingkat pelapukan pada tiap satuan batuan itu sangat tinggi dan mengakibatkan ketebalan tanah yang sangat tebal tetapi memiliki sifat kurang stabil. Data dari peta lereng Kota Semarang menunjukan daerah ini merupakan kawasan dengan kemiringan rata-rata 10 - 70% dan masuk dalam kriteria miring yang sangat curam. Sedangkan dari peta zona kerentanan gerakan tanah Kota Semarang, daerah ini masuk ke dalam zona kerentanan terhadap gerakan tanah sedang. Kawasan ini juga kerap dilewati kendaraan roda dua, roda empat, baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi karena memang daerah ini dekat dengan lingkungan kampus. Beberapa faktor tadi dapat dikatakan cukup berperan dalam mendukung terjadinya kerusakan yang kerap terjadi di jalan  ini.

Rabu, 27 Maret 2013

UNNES tanpa sepeda motor


Penerapan sepeda motor dilarang masuk kampus sejak Januari lalu sekiranya masih menuai pro dan kontra di kalangan mahasiswa. UNNES menerapkan kebijakan jalan kaki ke kampus dengan tujuan untuk mengurangi asap kendaraan yang dihasilkan oleh kendaraan mahasiswa, tapi sama saja mungkin,,,, karena bus pun juga menghasilkan asap. Fasilitas tempat parkir pusat yang aksesnya terlalu jauh dari tempat kuliah para mahasiswa malah membuat mahasiswa enggan parkir di tempat tersebut. Sampai sekarang para mahasiswa lebih memilih untuk parkir di tempat terdekat dengan fakultas mereka. “Mungkin” kebijakan ini belum berhasil di terapkan oleh UNNES karena hampir semua fakultas di sediakan tempat parkir mahasiswa. Dengan begitu sama saja kaaan,, sebelum dan sesudah di terapkan kebijakan tersebut, Cuma para mahasiswa masuk ke kampus bukan melalui pintu atau gerbang utama, melainkan melalui gang-gang jalan kampung rumah warga. “Mungkin” asap kendaraan bermotor masih saja ada di kampus UNNES. Sekiranya UNNES perlu meninjau ulang mengenai kebijakan jalan kaki ke kampus ini . . . . . Atau mungkin menerapkan kebijakan lain, yaitu penambahan dan penanaman pohon-pohon hijau di kampus supaya asap kendaraan dapat berkurang. . . . . . . SEKIAN.